Browse By

TANTANGAN YANG HARUS DIATASI DALAM TRANSFORMASI DIGITAL

Pendahuluan

Transformasi digital telah menjadi prioritas strategis utama dalam dunia bisnis saat ini. Walaupun demikian, saat suatu organisasi berusaha untuk beradaptasi dan berkembang di era digital ini, sangat mungkin mereka akan menghadapi berbagai tantangan yang harus diatasi secara efektif. Karena itu, transformasi digital bukan sekadar mengintegrasikan teknologi baru ke dalam operasional organisasi, namun transformasi digital memerlukan perubahan menyeluruh dalam cara bisnis beroperasi, berinteraksi dengan pelanggan, dan memberikan nilai. Tulisan ini akan memaparkan terkait berbagai tantangan yang akan dihadapi organisasi bisnis dalam melakukan transformasi digital.

11 Tantangan transformasi digital yang harus diatasi

Meskipun transformasi digital menghadirkan peluang bagi organisasi untuk berinovasi dan berkembang, namun transformasi digital juga mendorong pemikiran kritis dan kemungkinan menata ulang aspek-aspek inti bisnis. Menurut Olmstead (2022)[1], terdapat 11 tantangan terpenting yang perlu dipertimbangkan ketika menjalankan proyek transformasi digital pada tahun 2023, yaitu:  Lack of change management strategy, Complex software and technology, Driving adoption of new tools and processes, Continuous evolution of customer needs, Lack of a digital transformation strategy, Lack of proper IT skills, Security concerns, Budget constraints, Culture mindset, Siloed organizational structure, & Measuring ROI. Tulisan ini akan memaparkan 6 (dari 11) tantangan yang disebutkan Olmstead tersebut.
  1. Lack of change management strategy

Organisasi dengan strategi manajemen perubahan yang menyeluruh, akan memiliki kemungkinan enam kali lebih besar untuk mencapai atau melampaui tujuan transformasi digital. Karena, dengan memiliki budaya manajemen perubahan yang solid, akan sangat penting bagi keberhasilan organisasi. Kurangnya strategi perubahan akan menyebabkan proyek atau rencana implementasi baru mengalami kegagalan. Karena itu, strategi manajemen perubahan yang efektif akan melibatkan perencanaan proyek dengan mengidentifikasi akar penyebab masalah dan membangun hubungan dengan seluruh pemangku kepentingan, serta karyawan. 

  1. Complex software and technology
Baca Juga:  MENGENALI & MENGATASI DEFISIT ”SOFT SKILLS” DALAM MENDUKUNG TRANSFORMASI DIGITAL

Perangkat lunak perusahaan pada dasarnya rumit dan teknologi baru bisa jadi menakutkan. Hal ini merupakan tantangan besar bagi organisasi yang sedang menjalani transformasi digital, baik dari perspektif implementasi dan integrasi data, serta perspektif pengalaman pengguna akhir. Karena itu, para pemimpin harus mempertimbangkan hal ini pada tahap awal proyek transformasi dan mencari sistem yang paling intuitif dan terintegrasi.

  1. Driving adoption of new tools and processes

Proses dan teknologi baru seringkali menghadirkan tantangan dalam bentuk penolakan terhadap perubahan dari karyawan, yang merasa tidak ada yang salah dengan cara mereka melakukan sesuatu saat ini. Untuk implementasi perangkat lunak baru, organisasi harus memberikan pelatihan orientasi yang komprehensif dan dukungan kinerja karyawan yang berkelanjutan untuk membantu karyawan menjadi produktif & mahir menggunakan suatu alat dengan cepat, sehingga memungkinkan mereka memahami nilai dari proses baru ini.

  1. Continuous evolution of customer needs

Organisasi terus berkembang, dan tidak dapat disangkal bahwa COVID-19 mempercepat hal ini. Transformasi digital bukanlah proyek yang mudah, dan upaya transformasi yang intensif memerlukan waktu bertahun-tahun untuk mencapainya. Apa yang terjadi jika, pada saat itu, pelanggan membutuhkan perubahan? Evolusi masalah pelanggan akan terjadi. Karena itu, bersikap proaktif dan berencana sangat dibutuhkan, agar tangkas ketika tiba waktunya untuk mengadopsi teknologi digital baru.

  1. Lack of a digital transformation strategy

Mengapa mengganti sistem lama & proses manual dengan sistem digital baru? Apakah organisasi mempunyai rencana (atau kebutuhan) untuk menerapkan sistem yang canggih & kompleks? Apakah siap untuk memigrasikan sistem yang ada ke sistem baru dengan benar? Pertanyaan-pertanyaan ini harus dijawab sebelum menerapkan proses transformasi digital. Tidak ada proyek transformasi yang sukses tanpa strategi yang telah ditentukan. Jangan terpengaruh oleh asumsi dan kata-kata yang salah. Ketahui di mana organisasi kita dapat ditingkatkan, area mana di perusahaan yang perlu ditingkatkan, dan mulailah dari sana.

  1. Lack of proper IT skills
Baca Juga:  MENGEMBANGKAN SISTEM BIAYA SEDERHANA SECARA MANUAL DI RS

Agar upaya transformasi berhasil, manajemen memerlukan tim IT yang terampil dan berkinerja tinggi. Padahal, hal ini sulit dilakukan terutama di tengah kekurangan pekerja teknologi. Berdasarkan studi perusahaan, 54% organisasi mengatakan bahwa mereka tidak dapat mencapai tujuan transformasi digitalnya karena kurangnya karyawan yang memiliki keterampilan teknis. Tantangan yang dihadapi organisasi mencakup kurangnya keahlian dalam keamanan siber, arsitektur aplikasi, integrasi perangkat lunak, analisis data, dan migrasi data.

Organisasi yang kekurangan tenaga profesional IT dapat mengatasi berbagai tantangan tersebut dengan melakukan outsourcing pekerjaan ini kepada konsultan luar dan pakar transformasi digital untuk membantu menjembatani kesenjangan implementasi dan migrasi. Namun, bagi organisasi yang menganggap serius transformasi digital, membentuk tim internal atau memiliki pemimpin transformasi digital dalam tim IT, serta dapat membuat dan mengelola perencanaan strategis IT organisasi adalah suatu keharusan.

[1] Levi Olmstead, 2022 (updated 2023), 11 Critical Digital Transformation Challenges to Overcome (2023)