Browse By

RS MENGHADAPI KESULITAN DALAM MELAKUKAN PEMULIHAN KEUANGAN

Pendahuluan
Kinerja keuangan RS di AS tengah mengalami kecendrungan yang menurun. Karena berbagai gangguan seperti; kekurangan tenaga kerja dan gangguan rantai pasokan telah memicu kenaikan biaya secara drastis. Hal ini tentunya mengganggu kinerja keuangan khsusnya margin keuntungan RS. Karena itu, pembahasan dibawah ini akan membahas hal tersebut mengacu pada tulisan  Sudimack & Polsky (2022)[1].
Hospitals Face A Difficult Road To Financial Recovery (Sudimack & Polsky, 2022)
Ada beberapa faktor yang menunjukkan bahwa margin RS akan terus menghadapi hambatan di tahun-tahun mendatang. Pertama, pendorong utama meningkatnya biaya RS adalah kekurangan tenaga kerja, khususnya tenaga perawat yang kemungkinan akan semakin parah di masa depan. Sejak dimulainya pandemi, RS telah kehilangan total 105.000 karyawan, dan lowongan perawat meningkat lebih dari dua kali lipat. Sebagai tanggapan, RS mengandalkan perawat kontrak yang mahal dan jam lembur yang diperpanjang. Hal ini mengakibatkan melonjaknya biaya gaji secara total. PSelain diperparah oleh pandemi, kekurangan perawat nasional di AS merupakan masalah lama, karena sebagian besar angkatan kerja mendekati masa pensiun dan pasokan perawat baru yang tidak mencukupi untuk menggantikan mereka, yang diproyeksikan mencapai 450.000 pada tahun 2025. Kedua, meskipun tarif pembayaran pada akhirnya akan disesuaikan dengan kenaikan biaya, hal ini kemungkinan besar akan terjadi secara perlahan dan tidak merata. Tarif Medicare, yang disesuaikan setiap tahun berdasarkan proyeksi inflasi, sudah diatur untuk lebih rendah dari biaya RS. Mengingat bahwa Medicare tidak mengeluarkan koreksi retrospektif, penyesuaian yang kurang ini akan dimasukkan ke dalam harga Medicare di masa mendatang. Hal ini akan memperlebar kesenjangan antara biaya dan pembayaran. Untuk pembayar komersial, tarif komersial biasanya dinegosiasikan dalam siklus kontrak tiga hingga lima tahun, sehingga RS di awal kontrak baru mungkin terpaksa menunggu sampai negosiasi ulang untuk penyesuaian harga yang lebih substansial. "Negosiasi" juga merupakan istilah operatif, karena pembayar tidak berkewajiban untuk mengimbangi kenaikan biaya. Sebaliknya, kemungkinan kecepatan dan tingkat penyesuaian harga akan ditentukan oleh pangsa pasar penyedia, membuat RS yang lebih kecil semakin tidak diuntungkan. Tren ini dicontohkan selama krisis keuangan 2008, di mana hanya RS paling bergengsi yang mampu menyesuaikan harga secara signifikan sebagai tanggapan atas kerugian investasinya. Akhirnya (ketiga), ketidakpastian ekonomi & ancaman resesi akan terus menciptakan gangguan volume pasien, terutama dengan prosedur elektif. Meskipun perawatan kesehatan secara historis telah disebut sebagai "recession-proof", namun meningkatnya prevalensi rencana kesehatan yang dapat dikurangkan tinggi (HDHP/high-deductible health plans) dan mekanisme pembagian biaya yang lebih agresif, telah membuat pasien lebih terpapar pada biaya perawatan kesehatan dan lebih cenderung mempertimbangkan biaya terhadap pengeluaran rumah tangga lainnya ketika anggaran semakin ketat. Meskipun tanggapan konsumen dalam konteks tersebut bukanlah hal baru, namun penelitian tentang resesi sebelumnya telah mengidentifikasi bahwa korelasi langsung antara kekuatan ekonomi dan volume pembedahan, dengan tingkat pemaparan biaya untuk pasien secara historis tinggi. Sejak 2008, pendaftaran di HDHP telah meningkat hampir empat kali lipat. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa satu dari lima orang dewasa melaporkan menunda atau menghentikan pengobatan sebagai respons terhadap inflasi umum. Secara keseluruhan, faktor-faktor ini menunjukkan bahwa tekanan keuangan saat ini sepertinya tidak akan terselesaikan dalam jangka pendek. Ketika kerugian meningkat dan cadangan uang tunai berkurang, RS pada akhirnya perlu memangkas biaya untuk membendung kerugian, yang menghadirkan tantangan dan peluang. [1] Andrew Sudimack & Daniel Polsky 2022, Inflation Is Squeezing Hospital Margins—What Happens Next?
Baca Juga:  PENERAPAN STRATEGI PEMASARAN RS MELALUI: PEMANFAATAN PEMASARAN VIDEO, MENGGABUNGKAN IKLAN BERBAYAR & ORGANIK, MENANGGAPI ULASAN PASIEN, & PROMOSIKAN PENGHARGAAN DI SEMUA SALURAN