Browse By

MENGOBATI PASIEN DENGAN REALITAS VIRTUAL

Pendahuluan

Obat merupakan aspek penting dalam pelayanan kesehatan. Namun, ketergantungan terhadap obat dalam jangka panjang, kurang baik bagi manusia. Salahsatu manfaat transformasi digital dalam organsasi pelayanan kesehatan adalah mengurangi ketergantungan terhadap obat. Hal ini akan terlihat dengan adanya tekhnologi Virtual Reality/VR, yang dapat mengurangi ketergantungan obat terhadap beberapa penyakit seperti migrain, & nyeri.

Tulisan ini akan mengangkat item ke 3 (dari 7 item) tren kunci transformasi digital di organisasi pelayanan kesehatan pada tahun 2021 yang disebutkan Reddy(2021)[1], yaitu Treating patients with virtual reality.

Treating patients with virtual reality

Sepuluh tahun yang lalu, memberi tahu orang-orang bahwa anda dapat mengurangi rasa sakit mereka dengan perangkat yang mirip dengan video game, merupakan  hal yang tidak mungkin. Pada tahun 2018, Virtual Reality (VR) mulai diperkenalkan sebagai transformasi digital dalam pelayanan kesehatan. Segudang aplikasinya sangat mengubah cara pasien dirawat. Manajemen nyeri misalnya. sampai saat ini, dokter membagikan resep opioid seperti permen. Obat lainnya (seperti OxyContin, Vicodin, atau Percocet), juga diberikan dokter untuk mengiobati Migrain  & Nyeri pasca operasi, ? Berikut beberapa OxyContin, Vicodin, atau Percocet. Akibatnya, AS saat ini menghadapi krisis narkoba terburuk dalam sejarah, dengan beban ekonomi sebesar $78,5 miliar per tahun.

Menurut CDC, 50 juta orang dewasa AS mengalami nyeri kronis pada tahun 2016. Untuk mengurangi ketergantungan obat, banyak orang mulai menggunakan VR sebagai alternatif obat yang lebih aman dan lebih efisien. Teknologi VR digunakan tidak hanya untuk mengobati rasa sakit. Tekhnologi ini juga mulai digunakan untuk pasien yang mengalami kecemasan, hingga gangguan stres pasca-trauma dan stroke. Kondisi ini hanya sebagian kecil dari kemampuan VR yang telah terbukti di bidang medis. Kegunaan lain termasuk dokter dan pasien yang menggunakan simulasi realitas virtual untuk mengasah keterampilan mereka atau untuk merencanakan operasi yang rumit. Headset VR juga dapat memotivasi pemakainya untuk berolahraga dan membantu anak-anak dengan autisme, sehingga dapat  belajar cara menavigasi dunia.

Berbagai perusahaan telah berinvesi pada pengembangan tekhnologi VR. Mulai perusahaan rintisan (startups) hingga raksasa farmasi, semua bertaruh & berinvestasi pada VR. Virtual dan augmented reality global di pasar pelayanan kesehatan, diperkirakan akan mencapai $ 5,1 miliar pada tahun 2025. Karena itu, perusahaan perawatan kesehatan yang merencanakan strategi pemasaran digital, harus mempertimbangkan untuk menginvestasikan teknologi ini. VR adalah saluran komunikasi yang kuat yang akan memungkinkan organisasi untuk dapat lebih memahami kebutuhan pelanggan, dan secara virtual melibatkan mereka dengan produk atau layanan.

[1] Michael Reddy, 2021, Digital Transformation in Healthcare in 2021: 7 Key Trends

comments