Browse By

MEMBURUKNYA KONDISI KEUANGAN RS AS AKIBAT MULAI BERKURANGNYA DANA BANTUAN COVID-19

Pendahuluan

Penurunan jumlah pasien (pasien menunda prosedur elektif dan tinggal di rumah) setelah terjadinya pandemi COVID-19, menyebabkan turunnya pendapatan RS secara signifikan. Dampak dari kondisi ini adalah terjadinya penurunan kemampuan keuangan industri RS. Selama pandemi, RS AS menerima bantuan dari pemerintah sebagai bagian dari Undang-Undang CARES, untuk membantu menjaga sistem RS tetap bertahan. Namun, rencana pemerintah AS untuk mengurangi dana bantuan tersebut (atau bahkan meniadakannya), dapat menyebabkan memburuknya kondisi keuangan RS di sana.

Hospital financial outlook worse as COVID-19 relief funds start to dwindle[1]

Dana bantuan penyedia $ 175 miliar yang disahkan oleh Kongres sebagai bagian dari Undang-Undang CARES membantu menjaga sistem RS tetap bertahan pada bulan Maret dan April karena volume anjlok karena pembatalan prosedur elektif dan keengganan di antara pasien untuk pergi ke RS. Beberapa sistem nirlaba seperti HCA dan Tenet menunjuk pada dana bantuan untuk membantu menghasilkan keuntungan pada kuartal kedua tahun ini. Menurut Moody’s, manfaat tersebut kemungkinan akan berkurang karena Kongres AS telah menghentikan pembicaraan tentang pengisian kembali dana tersebut.

Cost cutting challenges

Compounding problems bagi RS adalah bagaimana menangani biaya besar. Beberapa sistem RS memotong beberapa biaya seperti staf, karena adanya cuti dan tindakan lainnya. Analisis Moody’s mengatakan bahwa untuk setiap dolar yang hilang dari pendapatan, beberapa RS dapat memotong biaya sekitar 50 sen. Namun, tingkat pemotongan biaya ini tidak akan berkelanjutan. RS tidak dapat memotong biaya tanpa batas, tetapi biaya untuk menangani pandemi (lebih banyak uang untuk alat pelindung diri dan tindakan keselamatan) akan berlanjut untuk beberapa waktu. Akibat dari hal tersebut, Moody’s mengatakan bahwa RS akan beroperasi kurang efisien setelah pandemi, meskipun pengalaman awalnya dalam merawat pasien COVID-19 akan memungkinkan mereka untuk memberikan perawatan lebih efisien daripada di hari-hari awal pandemi. Hal ini akan membantu RS membebaskan kapasitas tempat tidur lebih cepat dan menghindari perlunya penutupan operasi elektif yang meluas.

Will that capacity be put to use?

Namun, ada kekuatiran tentang penggunaan kapasitas yang ada. Analisis Moody’s menatakan bahwa jumlah prosedur bedah yang dilakukan di luar RS kemungkinan akan meningkat dan akan semakin melemahkan pendapatan. Prosedur rawat jalan yang biasanya menghasilkan biaya yang lebih rendah bagi konsumen dan pembayar, kemungkinan akan lebih disukai oleh lebih banyak pasien yang enggan check-in ke RS karena COVID-19. The payer mix (Campuran pembayar) juga akan bergeser, dan tidak menguntungkan RS. Meningkatnya orang yang kehilangan pekerjaan karena pandemi, akan memaksa lebih banyak pasien yang awalnya menggunakan rencana komersial berpindah ke program seperti Medicaid. Moody's menambahkan bawa hal ini akan menghambat pertumbuhan pendapatan RS selama 12-18 bulan ke depan.

Bright spots

Ada beberapa titik terang untuk RS, termasuk bahwa tidak semua dari $ 175 miliar telah tersebar. Undang-undang CARES terus memberi RS pembayaran tambahan 20% untuk merawat pasien Medicare yang memiliki COVID-19, dan menangguhkan pemotongan pembayaran 2% untuk pembayaran Medicare yang dipasang sebagai bagian dari sekuestrasi. Pusat Layanan Medicare & Medicaid juga mengusulkan peningkatan tarif pembayaran rawat jalan untuk tahun fiskal 2021 sebesar 2,6% dan tarif rawat inap sebesar 2,9%.

Volume pasien juga dapat kembali normal pada tahun 2021. Moody's memperkirakan bahwa volume pasien akan kembali ke sekitar 90% dari tingkat rata-rata sebelum pandemi pada kuartal keempat tahun ini. Analisis Moody's menambahkan bahwa Sisa 10% kemungkinan akan kembali lebih lambat pada tahun 2021, tetapi lebih cepat jika vaksin tersedia secara luas.

[1] Robert King, 2021, Moody's: Hospital financial outlook worse as COVID-19 relief funds start to dwindle

comments