Browse By

MENSTABILKAN SIKLUS PENDAPATAN ORGANISASI PELAYANAN KESEHATAN SELAMA & PASCA PANDEMI COVID-19

Pendahuluan

Salahsatu dampak keuangan yang dirasakan organisasi pelayanan kesehatan akibat pandemi COVID-19 adalah terganggunya siklus pendapatan. Dampak keuangan seperti ini akan cukup lama dan berpengaruh pada posisi kas organisasi. Karena itu, langkah menstabilkan keuangan melalui peningkatan kemampuan yang ada selama  & setelah pandemi sangat dibutuhkan. Melalui pemanfaatan beberapa kemampuan yang dikembangkan selama krisis, dapat membangun siklus pendapatan organisasi pelayanan kesehatan yang lebih tangguh.

Terkait upaya organisasi pelayanan kesehatan dalam melakukan ”recovery” siklus pendapatannya akibat pandemi, LaPointe (2020)[1] mengungkapkan 4 poin penting, yaitu; 1) stabilizing the healthcare revenue cycle, 2) telehealth during and after the pandemic, 3) aligning patient billing with the new reality, & 4) building the next generation of care. Tulisan ini akan menyajikan poin pertama dari tulisan LaPointe tersebut, yaitu stabilizing the healthcare revenue cycle.

Stabilizing the healthcare revenue cycle

Membangun kembali kapasitas klinis untuk mendorong pendapatan, menjadi prioritas utama para pemimpin RS yang baru saja memulai gelombang awal COVID-19. Menurut data dari Strata Decision Technology, prosedur rawat inap teratas yang menyumbang 50% dari total pembayaran yang dilakukan ke RS, mengalami penurunan volume hingga 99% selama fase awal pandemi. Karena itu, menanamkan kepercayaan pasien dalam melanjutkan prosedur ini, dan memastikan kapasitas dan persediaan yang diperlukan untuk layanan elektif, merupakan kunci untuk menghasilkan pendapatan yang sangat dibutuhkan selama dan setelah pandemi.

Tetapi, organisasi pelayanan kesehatan juga perlu membangun kembali kapasitas keuangan mereka setelah kehilangan pendapatan yang dramatis. Eric Jordahl (managing director at Kaufman Hall and practice leader of treasure and capital markets at the consulting firm), mengatakan kepada RevCycleIntelligence pada Maret 2020: pesan utamanya adalah bermain bertahan sebanyak yang anda bisa dan benar-benar fokus untuk mengunci segalanya”. ”Setelah anda melakukannya, perhatikan di mana ada peluang". Nasihat Jordahl untuk para pemimpin keuangan organisasi pelayanan kesehatan masih benar, terutama karena COVID-19 memang mengakibatkan resesi seperti yang diperkirakan.

”Bermain bertahanan” dengan menilai likuiditas dan melihat kembali rencana investasi untuk sisa tahun ini, akan dapat menstabilkan siklus pendapatan setelah terjadinya penurunan volume dan pendapatan. Strategi tersebut akan membutuhkan pengurangan biaya di seluruh organisasi, dengan beberapa RS harus melakukan pemutusan hubungan kerja, cuti, dan perubahan tenaga kerja lainnya. Orang lain mungkin juga harus membatalkan proyek modal yang direncanakan untuk memastikan uang tunai masih menjadi raja selama resesi. Namun, langkah-langkah ini dirancang untuk membuat penyedia kembali berdiri tegak. Sementara itu, memanfaatkan telehealth dan kemampuan inti lainnya untuk upaya tanggapan COVID-19, dapat membantu RS dalam mengimbangi pengurangan pengeluaran yang drastis dengan peningkatan pendapatan saat ini dan setelah pandemi.

[1] Jacqueline LaPointe, 2020, Healthcare Revenue Cycle Recovery After the COVID-19 Pandemic

comments