Browse By

STANDARISASI RANTAI PASOKAN DI ERA PANDEMI

Pendahuluan

Fleksibilitas rantai pasokan (supply chain), harus menjadi fokus dalam industri pelayanan kesehatan pada era pandemi COVID-19.  Hal ini diperlukan, agar  kualitas layanan tidak terganggu. Karena itu, tulisan ini masih akan mengangkat hasil diskusi antara Pierre Mitchell (Spend Matters’ Chief Research Officer) & Karen Conway (Global Healthcare Exchange/GHX-Vice President of Healthcare Value), tentang masalah yang dihadapi RS dengan rantai pasokannya, dan bagaimana industri tersebut telah belajar dari kesalahan masa lalunya[1].

Fokus pada tulisan ini terkait dengan model distribusi persediaan yang diinginkan & standarisasi rantai pasokan(supply chain), serta pilihan alternatif.. Sub-topik dalam sajian ini merupakan ringkasan atas pertanyaan yang diajukan Mitchell, & bagian penjelasannya merupakan jawaban dari Conway atas pertanyaan yang diajukan.

Model distribusi persediaan yang diinginkan ketika terus-menerus memperbarui persediaan

Dalam rantai pasokan, selalu ada pengorbanan. Kuncinya adalah memahami pro dan kontra dari berbagai keputusan dari berbagai perspektif: klinis, operasional, keuangan dan kepuasan pelanggan. Banyak RS bekerja untuk menemukan keseimbangan antara dorongan berkelanjutan menuju standardisasi untuk mengurangi variasi dalam menurunkan biaya dan meningkatkan kualitas, dan kebutuhan, selama masa krisis agar cukup fleksibel untuk mengakomodasi perubahan.

Standarisasi rantai pasokan & pilihan alternatif di masa krisis

Di sinilah pembelajaran nyata dari COVID-19 dapat ditemukan. Hasil diskusi dengan sejumlah pemimpin sistem pelayanan kesehatan dan rantai pasokan, menyatakan bahwa mereka mereka akan terus berjuang untuk standarisasi, tetapi mereka akan melakukannya dengan berkonsultasi lebih dekat dengan dokter untuk memahami bagaimana mereka memandang alternatif yang dapat diterima, berdasarkan fitur, fungsionalitas dan yang paling penting bukti seputar kinerja produk. Kita tidak akan melihat banyak klausul kelangsungan bisnis dalam kontrak ini sekarang. Ini sangat berfokus pada harga. Dan secara lebih luas, sistem RS telah difokuskan tentu saja pada pengurangan jumlah volume agregat, untu mendapatkan harga yang lebih baik. Conway bahkan tidak hanya fokus pada kontrak, tetapi juga memiliki kartu skor (balanced scorecard) yang lebih seimbang untuk pemasoknya lebih dari sekadar harga dan ketersediaan.

Ini adalah area lain untuk melihat kemajuan nyata. Karena para pemimpin sistem pelayanan kesehatan lebih memahami kompleksitas dan saling ketergantungan yang melekat dalam rantai pasokan. Mereka akan mulai memasukkan sejumlah kriteria baru ke dalam keputusan sumber dan hubungan pemasoknya, mulai dari biaya dan kualitas hingga seberapa transparan pemasok tentang mitigasi risiko hulu (upstream risk mitigation). Perkembangan menarik lainnya adalah tentang bagaimana sektor swasta dan publik bekerja untuk mengurangi risiko. Misalnya, kita mungkin melihat RS regional mengumpulkan sumber daya mereka untuk membuat dan mengelola stok lokal mereka sendiri.

Sifat diskusi dan hubungan kontraktual antara pembeli dan penjual juga akan berubah. Saat membuat kontrak, RS tidak hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga bukti klinis, kemampuan pemasok untuk mengurangi risiko, dan kesediaan mereka untuk berbagi data persediaan, secara dua arah. Manajer sumber akan menilai vendor berdasarkan kesediaannya untuk memperingatkan mereka tentang potensi gangguan. Secara historis, pemasok sangat takut untuk membagikan informasi semacam ini. Tetapi, perubahan ini merupakan harapan  agar RS dapat memprioritaskan pemasok yang terbuka dengan mereka dan membantu mereka mencari cara untuk menyelesaikan kebutuhan yang mendesak. Pentingnya juga untuk mendorong terjadinya kontrak langsung antara RS ke produsen, karena saluran tersebut telah menjadi sumber ”kebisingan”.

[1] Pierre Mitchell, 2020, Modernizing the healthcare supply chain in the coronavirus era

comments