Browse By

MENGELOLA AKTIVA TETAP DI INSTALASI BEDAH RS (PART 2)

Pendahuluan 

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya dengan judul "Mengelola Aktita tetap di Instalasi Bedah RS". 

Meningkatkan Turnover kamar operasi melalui Manajemen Aset Bedah 

Tujuan utama departemen layanan pusat adalah memastikan alat bedah disterilkan dengan benar dan siap digunakan kembali di ruang operasi. Sangat penting untuk menerapkan prosedur yang tepat untuk memperbaiki proses sterilisasi, sehingga membantu sistem RS melindungi peralatan tersebut. Seberapa terlatihnya staf layanan pusat, mereka tidak dapat melakukan pekerjaan secara efektif apabila ruang operasi memerlukan alat yang disterilkan lebih cepat daripada prosedur dekontaminasi yang direkomendasikan.

Tanggung jawab RS dalam memperbaiki tingkat turnover tergantung pada ketepatan teknik Manajemen Aset Bedahnya. Secara khusus, standarisasi dan optimalisasi set peralatan bedah, yang membantu RS membangun perangkat hanya mencakup peralatan yang diperlukan, bukan dengan tambahannya di sepanjang tahun. Hal ini dapat menyebabkan banyak manfaat mulai dari penghematan fiskal hingga fasilitas dan tekanan fisik yang kurang pada pekerja serta juga dapat mengurangi jumlah peralatan yang perlu diproses oleh CSD. Peralatan yang sedikit pada setiap rangkaian akan mengarah pada proses sterilisasi yang lebih cepat, dan menyebabkan tingkat turnover OR membaik.

Ini menjadi faktor penting bagi pimpinan ruang operasi agar operasi mereka lebih efisien, namun mereka merasa dibatasi oleh kecepatan peralatan yang dapat disterilkan. Durasi waktu di sini didefinisikan sebagai waktu antara saat satu pasien meninggalkan ruang OR dan orang lain masuk, ini merupakan salah satu dari beberapa indikator efisiensi yang dirujuk oleh OR, dan penting bagi ahli bedah. Apabila waktu perputaran dikurangi, maka rangkaian itu tidak tersedia karena tidak dapat dibersihkan dan disterilkan cukup cepat.

Itulah salah satu  alasan mengapa ahli bedah dan pimpinan ruang operasi harus mendukung optimalisasi yang ditetapkan. Proses pengoptimalan memastikan bahwa ahli bedah dapat memiliki peralatan yang tepat pada waktu yang tepat, sehingga memungkinkan efisiensi dan efektifitas dalam operasi. Selain itu, memiliki sejumlah peralatan yang sesuai dapat meningkatkan efisiensi dalam perakitan dan pembersihan pasca-operasi.

Namun, tidak semua pemangku kepentingan menyadari bagaimana tujuan ini saling mempengaruhi satu sama lain. Sistem kesehatan dapat mengalami hambatan internal untuk mengatur pengoptimalan, yang juga telah kita susun di pos sebelumnya. Satu-satunya cara untuk mengelola aset bedah adalah dengan melindungi semua manfaat klinis dan fiskalnya, agar semua pihak menyadari nilainya terhadap keseluruhan sistem kesehatan, termasuk diri mereka sendiri.

Intinya, tekanan tertentu sering membuat profesional CS tidak mengikuti praktik terbaik setiap saat. RS harus memperbaiki waktu perputarannya melaluo pengelolaan aset bedah yang tepat. Dengan sedikitnya peralatan dalam setiap rangkaian proses, dapat menyebabkan sterilisasi lebih cepat.

comments