Browse By

KELEBIHAN & KELEMAHAN METODE DOUBLE DISTRIBUTION DALAM MENGHITUNG UNIT COST PERLAYANAN DI RS

Pendahuluan                         

Terkait dengan menghitung biaya perunit, terdapat 2 aliran sistem akuntansi biaya yang digunakan yaitu sistem akuntansi biaya tradisional dan ABC. Pada sistem ABC, jasa atau produk menggunakan aktivitas, kemudian aktivitas menggunakan sumber daya. Bedanya, dalam sistem ABC menekankan pada hubungan sebab akibat. Pemicunya adalah sebab dari aktivitas dan aktivitas menimbulkan pengaruh pada cost driver. Sedangkan pada sistem akuntansi biaya tradisional, jasa atau produk menggunakan sumber daya. Salahsatu contoh sistem akuntansi biaya tradisional di RS adalah metode double distribution. Metode double distribution merupakan metode  pengalokasian  biaya  pada pusat biaya penunjang ke pusat biaya produksi melalui dua pentahapan, yaitu :

  1. Tahap I : distribusi biaya asli dari pusat biaya penunjang ke pusat biaya penunjang yang lain & seluruh pusat biaya produksi.
  2. Tahap II :mendistribusikan hasil distribusi  biaya I pada  masing2 pusat biaya penunjang keseluruh pusat biaya produksi.

Metode double distribution menggunakan konsep Relative Value Unit/RVU dalam mengalokasi biaya di unit pelayanan ke produk/layanan berbasis reagen cost.

Pada kenyataannya, metode konvensional (seperti metode double distribution), sudah lama tidak lagi digunakan dalam menghitung biaya perproduk (unit cost) di banyak organisasi bisnis termasuk organisasi pelayanan kesehatan di manca negara.

Kelebihan metode double distribution

Menghitung unit cost terkait dengan upaya memberikan informasi biaya perlayanan yang tepat dan valid bagi manajemen. Informasi ini akan sangat bermanfaat  dalam mendukung pengambilan keputusan manajerial di RS. Penting bagi manajemen untuk memperoleh informasi biaya perlayanan (unit cost) dengan cepat, tetapi lebih penting lagi bahwa informasi biaya perlayanan (unit cost) yang diberikan merupakan informasi yang valid dengan proses yang benar.

Salahsatu kelebihan metode double distribution dalam konteks UC perlayanan di RS adalah lebih mudah dipelajari karena proses perhitungannya sederhana. Kelebihan ini dapat juga menjadi suatu kelemahan apabila dilihat dari aspek kepentingan manajemen. Daripada menghitung UC dengan menggunakan metode double distributian (yang banyak biasnya) dengan proses tertentu, sama saja dengan "YANG PENTING INFORMASI UNIT COST TERSEDIA BAGAIMANAPUN CARANYA". Hal ini terntu saja akan mengakibatkan kesalahan bagi manajemen apabila menggunakan informasi UC tersebut untuk pengambilan keputusan manajerial.

Kelemahan metode double distribution

Pada tulisan terdahulu dalam web ini telah banyak dibahas mengenai kelemahan metode double distribution. Pada tulisan kali ini akan dibahas mengenai 2 hal terkait kelemahan metode double distribution yaitu kelemahan metode perhitungan UC di RS (non ABC) menurut pakar, & 2) kelemahan secara terkhnis akuntansi biaya.

Kelemahan metode double distribution menurut pakar

Pakar akuntansi biaya Kaplan (dalam Kaplan dkk, 2017), mengatakan bahwa secara historis, biaya dalam organisasi pelayanan kesehatan dilakukan dengan cara yang tidak biasa. Biaya dihitung dengan menggunakan metode seperti ratio-of-costs-to-charges (RCC) atau biaya berdasarkan relative value units (RVU) yang telah dikembangkan untuk RS dan layanan dokter. Masih mengacu pada pendapat Kaplan dkk, karena sistem biaya yang digunakan di organisasi pelayanan kesehatan sangat kacau, satu-satunya informasi yang dapat diandalkan untuk manajemen RS adalah laporan yang berasal dari laporan pendapatan lini-item, yang diatur berdasarkan kategori pengeluaran, dan bukan berdasarkan kondisi medis. Akibatnya dalam memangkas biaya, manajemen cenderung memaksakan pemotongan yang sembarang pada tingkat line-item, seperti membatasi pengeluaran pada obat-obatan atau menerapkan potongan 10% untuk memotong seluruh biaya personil. Ini adalah jenis pengurangan sembarang yang dapat menurunkan hasil (kualitas) ke pasien.

Untuk meyakinkan pembaca tentang Kaplan, berikut adalah penjelasan rinci tentang Kaplan. ROBERT S. KAPLAN adalah Senior Fellow and Marvin Bower Professor of Leadership Development, Emeritus at Harvard Business School. Saat ini Dia bekerjasama dengan Michael Porter pada Value-Based Health Care, terutama dalam mengukur biaya layanan kesehatan dan memperkenalkan model pembayaran untuk memberikan insentif bagi hasil pasien yang lebih baik dan biaya yang lebih rendah. Kaplan adalah codeveloper activity-based costing (ABC) dan balanced scorecard (BSC). Dan saat ini sedang memperluas penggunaan peta strategi dan BSC untuk kerjasama antar organisasi. Dia telah menulis 14 buku dan lebih dari 175 artikel, termasuk 25 di Harvard Business Review. Buku-bukunya yaitu The Execution Premium: Linking Strategy to Operations for Competitive Advantage, buku kelima mengenai balanced scorecard ditulis bersama David Norton, dan Time-Driven Activity-Based Costing dengan Steve Anderson. Dipilih untuk Elected to the Accounting Hall pada tahun 2006, Kaplan menerima Lifetime Contribution Award dari Management Accounting Section of the American Accounting Association (AAA) pada tahun 2006, Lifetime Contribution Award for Distinguished Contributions to Advancing the Management Accounting Profession from IMA® (Institute of Management Accountants) pada tahun 2008, dan the IMA Distinguished Advocate Award in 2016. 

Kelemahan metode double distribution secara terkhnis akuntansi biaya

Seperti telah disebutkan dalam beberapa tulisan saya terdahulu, Relative Value Unit/RVU biasanya dijadikan dasar dalam mengalokasi biaya pada metode double distributian. Berikut ini adalah beberapa kelemahan model alokasi RVU (sekaligus kelemahan metode double): 1) Diasumsikan bahwa setiap RVU menggunakan sumber-daya yang sama persis, 2) Artinya; semua jenis biaya diasumsi akan naik/turun secara seragam bergantung pada dasar RVU, 3) Mis; Jika reagen cost dianggap dasar RVU, maka semua jenis biaya akan naik/turn berbasis naik/turunnya RVU reagen cost.

Kelemahan metode RVU dan double sistribution seperti dijelaskan diatas, menunjukkan bahwa sebenarnya konsep ini lebih cocok untuk membuat standar (standar biaya) karena lebih memfokuskan pada hasil akhir dan tidak berorientasi pada perbaikan model pembebanan yang justru sangat diperlukan dalam akuntansi biaya. Karena itu hasil analisis metode ini sebenarnya tidak sesuai apabila digunakan untuk pengambilan keputusan manajerial seperti kebijakan tarif, penilaian kinerja instalasi khususnya mengenai efesiensi, dan untuk anggaran RS.

Saran untuk manajemen & SDM RS

Setelah membaca tulisan diatas, kami berharap manajemen & SDM RS mendapatkan wawasan baru mengenai tekhnik perhitungan unit cost perlayananyang terbaik yaitu metode ABC. Karena itu ada beberapa saran kami untuk manajemen & SDM RS, yaitu;

1. Tinggalkan metode double distribution karena menghasilkan informasi UC yang menyesatkan manajemen,

2. Mulailah untuk membaca & memahami mengenai metode ABC yang merupakan metode terbaik dalam menghitung UC,

3. Apabila masih kurang, ikutlah pelatihan menghitung UC dengan metode ABC,

4. Pilihlah pelatihan menghitung UC dengan metode ABC lengkap dengan software & BUKAN EXCELL.

comments