Browse By

TREN INDUSTRI RS DALAM PERENCANAAN KAPASITAS RAWAT INAP DI MASA DEPAN

Pendahuluan

Tren industri telah membuat manajemen RS menghadapi kesulitan dalam meningkatkan kapasitas rawat inap. Apalagi setelah pandemi COVID-19, diperkirakan akan terjadi pergeseran yang lebih besar terkait ketersediaan rawat inap RS. Beberapa perawatan yang secara tradisional mendapatkan pelayanan rawat inap, kemungkinan akan bergeser dari RS besar ke RS khusus. Kerena itu, penting bagi manajemen RS dalam mempersiapkan masa depan terkait perencana fasilitas rawat inapnya, agar dapat mengakomodasi visi yang telah ditetapkan.

Impact of Industry Trends on Capacity Planning (Balok dkk, 2020)[1]

Selama dekade terakhir, peran RS konvensional telah diguncang oleh perubahan tren volume, ekspektasi pasien yang berkembang, dan unconventional competitors (pesaing non konvensional), yang memasuki industri. Antara 2014 dan 2018, total pemanfaatan layanan rawat inap turun 2% secara nasional (di AS), dengan penerimaan medis dan bedah konvensional turun masing-masing sebesar 6% dan 4%. Selama periode yang sama, pemanfaatan nasional untuk kebidanan, kesehatan mental, dan penyalahgunaan zat masing-masing meningkat. Tren ini menunjukkan bahwa RS dengan rawat inap yang lebih kecil (sedkit) dan lebih khusus, sangat diperlukan dengan dukungan staf yang terlatih untuk merawat campuran pasien yang lebih kompleks.

Bersamaan dengan tren volume ini, biaya untuk layanan kesehatan meningkat lebih cepat daripada inflasi, dengan pasien membayar lebih untuk setiap layanan. Pengeluaran perawatan kesehatan menjadi pusat pembicaraan, dan perusahaan seperti Amazon & Walmart, siap untuk mengganggu industri dengan menawarkan perawatan yang nyaman dan berbiaya rendah. Di era digital disruption dalam pelayanan kesehatan, konsumen menavigasi serangkaian layanan baru dan berbeda yang mengancam model pemberian perawatan rawat inap konvensional.

Pandemi COVID-19 semakin mengganggu model perawatan kesehatan tradisional. Hal ini ditunjukkan dengan beberapa tren berikut:

  • Dalam upaya untuk meningkatkan akses bagi pasien, telehealth telah diadopsi secara luas oleh pasien, dokter, dan perusahaan asuransi kesehatan sebagai delivery method of choice,
  • Pembatalan kasus elektif telah menciptakan kekurangan besar dalam pendapatan sistem kesehatan,
  • Saat kasus COVID-19 melonjak, RS rawat inap telah beradaptasi untuk menerima masuknya pasien yang membutuhkan standar perawatan yang diperbarui dan sumber daya RS yang terbatas. Sementara tempat tidur di beberapa RS penuh, RS lain telah melihat kekosongan yang tidak biasa karena lonjakan yang tidak pernah terwujud. Hal ini menggambarkan permintaan yang semakin tidak pasti untuk perawatan rawat inap sebagai akibat dari COVID-19.

Ketika para eksekutif berusaha untuk menjawab tantangan ini, banyak RS dihadapkan pada infrastruktur yang menua, peralatan klinis yang sudah ketinggalan zaman atau tidak memadai, dan kendala kapasitas yang akan membutuhkan investasi dalam unit rawat inap baru. Kondisi ini terjadi, karena saat volume dan pertumbuhan pendapatan tidak dapat mengimbangi depresiasi dan beban bunga yang akan membebani laporan laba rugi mereka selama bertahun-tahun. Dengan masa manfaat 30 tahun dari sebagian besar investasi fasilitas dan modal, dan siklus hidup perubahan dalam teknologi dan model pemberian perawatan, potensi ketidakcocokan investasi dengan solusi semakin meningkat. Dalam lanskap ini, pendekatan terbaru untuk perencanaan ruang diperlukan untuk memastikan modal yang diinvestasikan dalam aset baru dapat beradaptasi, tangguh, dan efisien.

[1] Jesse Balok, Joe Moroni, David Nienhueser, John Hasbargen, & Michael Tillman, 2020, Hospital Inpatient Unit Planning: Preparing for an Uncertain Future

comments